TUTI HERAWATI
FKIP UNINUS
1.Pendahuluan
“Buku adalah jendela dunia “. Hal ini menggambarkan
pentingnya membaca untuk menambah wawasan melalui aktivitas membaca, seseorang
dapat mengenal suatu objek, ide prosedur konsep, definisi, nama, peristiwa,
rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca
seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti
menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian
tertentu.Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang
besar minat bacanya pastilah bangsa yang maju. Mereka akan membaca dalam setiap
kesempatan contohnya terlihat tidak hanya dalam perpustakaan umum dan pribadi
tetapi juga di stasiun, di kereta,dan dalam perjalanan pun mereka membaca.Membaca
adalah kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan
dicari melalui kegiatan membaca. Keterampilan membaca menentukan hasil
penggalian ilmu itu. Karena itu dapat dikatakan keterampilan membaca sangat
diperlukan dalam dunia modern.Sedangkan makna dari membaca adalah menduga,
memperhitungkan, dan memahami. Berdasarkan arti membaca tersebut, pengertian
membaca mencakup dua hal. Pengertian yang pertama yaitu membaca teks-teks yang
terurai dari huruf demi huruf kemudian membentuk kata lalu terangkai dalam
kalimat dan padu dalam paragraf. Pengertian yang kedua yaitu membaca
fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta. Membaca sesuai pengertian ini
misalnya memikirkan bagaimana terjadinya siang dan malam, peredaran planet
mengelilingi matahari, dan penciptaan mahkluk.Terdapat beberapa alasan mengapa
kita harus senantiasa membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh
pengetahuan. Kedua, membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca
merupakan salah satu sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan
rezeki. Kelima, membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha
Esa. Keenam, membaca sebagai sarana koreksi diri, inilah beberapa manfaat membaca. Membaca adalah aktivitas
memahami, menafsirkan, mengingat, lalu yang terakhir adalah menuliskannya
kembali berdasarkan analisis fikiran kita sendiri.Menurut Pawit M. Yusuf dalam
kegiatan seminarnya tentang Indeks Baca di Jurusan Ilmu Informasi dan
Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, membaca adalah
berfikir. Tidak ada manusia yang hidup tanpa berfikir, karena sebagai mahkluk
sosial ia selalu menghadapi berbagai masalah yang perlu dipecahkan.Apa yang
diketahui orang melalui kegiatan membaca pada hakikatnya adalah informasi.
Artinya dengan membaca ia mendapatkan sejumlah informasi yang dalam keadaan
tertentu bisa mempengaruhi sikap dan pandangan-pandangannya tentang perilaku
kehidupannya. Sikap bisa berubah karena adanya terpaan informasi, kata Krech, dkk,
(1968). Demikian pula kata Dwyer (1978) bahwa perilaku manusia bisa berubah
karena membaca, meskipun membaca sebenarnya bukan satu-satunya faktor yang
turut mempengaruhi sikap seseorang.Melalui membaca orang bisa menjelajahi
batas-batas ruang dan waktu. Peristiwa-peristiwa yang jauh terjadinya di masa
lampau bisa diketahui melalui membaca. Demikian pula peristiwa yang terjadi di
berbagai tempat di dunia ini bisa diketahui melalui membaca. Dengan demikian
yang namanya membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia.Adalah hal keliru jika memandang aktifitas membaca seolah-olah hanya
“milik orang-orang sekolahan”, sehingga orang-orang yang tidak bersekolah
dianggap tidak perlu lagi melakukan aktifitas membaca. Membaca pada dasarnya milik
semua orang dan siapapun dapat melakukannya. Demikian juga dengan bahan yang
dibacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba serius”, dalam
arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal
yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang,
misalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepak bola, atau
peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentDi dalam buku MenjadiGuruMerdeka
terjemahan dari A Pedagogy For Liberation Dialogues On Transforming Education,
karangan Ira Shor dan Paulo Freire, makna membaca menurut Paulo Freire bukan
sekedar berjalan atau melayang di atas lintasan kata-kata. Membaca adalah
menuliskan kembali apa yang dibaca. Membaca adalah menemukan hubungan antara
teks dan konteks dari teks bersangkutan, dan bagaimana menghubungkan antara
teks atau konteks dengan konteks pembacanya.Di Amerika pada masa lampau,
kecepatan membaca perlu diukur, bahkan sampai dibuatkan rumus segala. Membaca
seolah suatu kegiatan yang perlu kecepatan, seperti seorang berlari menuju
finish. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ternyata kecepatan membaca itu
tidak harus selalu sama, tetapi fleksibel. Adakalanya kita harus cepat,
adakalanya perlu memperlambat atau bahkan berhenti sebentar, lalu cepat
lagi.Kecepatan membaca sebenarnya tergantung pada tujuan membaca. Sutrisno
menyatakan bahwa ada kebiasaan yang kurang baik yang sering dilakukan sampai
dewasa ketika membaca yaitu:
a.
Vokalisasi. Membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca karena
mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.
b.
Gerakan Bibir. Menggerakkan bibir sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan
suara, sama lambatnya dengan membaca bersama. Kecepatan membaca bersuara
ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca diam.
c.
Menunjuk dengan Jari. Untuk menunjuk agar tidak ada kata-kata yang terlewati
maka kita melakukan dengan bantuan jari atau pensil menunjuk kata demi kata.
Cara tersebut sebenarnya harus kita tinggalkan karena tidak memberi kepercayaan
kepada mata dan otak.
d.
Regresi atau Mengulang. Kebiasaan selalu kembali ke belakang untuk melihat kata
yang baru dibaca itu menghambat serius dalam membaca.
e.
Gerakan Kepala. Semasa anak-anak penglihatan kita memang masih sulit menguasai
seluruh penampang bacaan, akibatnya kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan
untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa,
penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga cukup mata saja yang bergerak.
Ada
dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor
personal dan faktor institusional. Faktor personal adalah yang ada dalam diri
anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, intelegensi, kemampuan membaca, sikap
dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor
diluar diri anak, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan
jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis,
kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya anak.
Ada
banyak kiat yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca siswa, antara
lain:
a.
Memperkenalkan buku-buku. Cara ini dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran
maupun guru perpustakaan. Buku yang diperkenalkan dapat berupa fiksi dan
nonfiksi.
b.
Memperkenalkan hasil karya sastrawan. Sastrawan tenar di Indonesia banyak
sekali, misalnya, Umar Kayam, Y.B. Mangun Wijaya, Rendra, Taufik Ismail dan
lain-lain.
c.
Pameran buku, biasanya dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara toko buku
atau penerbit.
d.
Majalah dinding hingga dewasa ini masih merupakan media sederhana untuk
berekspresi, berkreasi, dan bereksplorasi. Majalah dinding dapat menjadi media
kelas dan sekolah.
2.Realita
Lapangan
Dalam kehidupan sehari-hari
tak jarang kita dihadapkan dengan kegiatan membaca, tetapi kenyataannya tak
jarang pula kita jumpai orang yang tidak suka membaca.
Dari hasil
penelitian akhirnya penulis dapat mengetahui ternyata masih banyak orang yang
merasakan bahwa membaca itu merupakan salah satu kegiatan yang membosankan dan
tak sedikit orang menganggap bahwa membaca adalah hal yang spele. Padahal,
membaca adalah salah satu kegiatan yang sangat penting dan bermanfaat karena
dengan Rajin membaca dapat membuat orang kaya akan wawasan dan informasi.
Selain itu, membaca bermanfaat untuk
otak dan kesehatan.
Setidaknya ada 5 manfaat membaca untuk
kesehatan, seperti dilansir Lifemojo, Sabtu (12/3/2011), yaitu:
1. Melatih otak
Salah satu keuntungan membaca buku adalah
sebagai latihan otak dan pikiran. Membaca dapat membantu menjaga otak agar
selalu menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat membaca, otak dituntut unutk
berpikir lebih sehingga dapat membuat orang semakin cerdas. Tapi untuk latihan
otak ini, membaca buku harus dilakukan secara rutin.
2. Meringankan stresStres adalah faktor risiko
dari beberapa penyakit berbahaya. keindahan bahasa dalam tulisan dapat memiliki
kemampuan untuk menenangkan dan mengurangi stres, terutama membaca buku fiksi
sebelum tidur. Cara ini dianggap bagu untuk mengatasi stres.
3. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer
Membaca benar-benar dapat langsung
meningkatkan daya ikat otak. Ketika membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi
(rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk
penyakit Alzheimer.
Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan
otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, Sudoku, dan
lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti,
kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.
4. Mengembangkan pola tidur yang sehat
Bila Anda terbiasa membaca buku sebelum tidur,
maka itu bertindak sebagai alarm bagi tubuh dan mengirimkan sinyal bahwa sudah
waktunya tidur. Ini akan membantu Anda mendapatkan tidur nyenyak dan bangun
segar di pagi hari.
5. Meningkatkan konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak
yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki
kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga
mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.
Jadi jangan hanya menghabiskan waktu
berjam-jam untuk menonton televisi atau bermain game komputer, tetapi juga
luangkan waktu untuk membaca buku. Kebiasaan baik itu tidak hanya akan
menyegarkan pikiran tetapi juga memberi manfaat untuk kesehatan dan kehidupan.
(detikcom)
DAFTAR PUSTAKA
Krech,dkk.(1968).”Sikap bisa berubah karena
adanya terapan informasi.”Tersedia: http :// isearch. Avg. Com/search?q=Krech%
2 c dkk. + (1968).” Sikap +bisa +berubah + karena + adanya +terapan + informasi
& sap=hp & lang=en & mid=a13a6fa.
Dwyer.(1978).”bahwa perilaku manusia bisa
berubah karena membaca.”Tersedia: http//isearch .avg.com/search?q=Dwyer (1978)
+bahwa+perilaku+manusia+bisa+berubah+karena+membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar